Dua bulan setelah kucing rescue saya, Bonbon, melahirkan dua anak, Elron Abdullah dan Sauron Imanullah, kini giliran Chewy yang melahirkan. Tak tanggung-tanggung, sekali empat dalam satu malam!
Chewy, sama seperti Bonbon, adalah kucing terlantar yang ditinggalkan pemiliknya kabur dari rumah kost sebelah. Mereka selalu bersama, meski rasnya berbeda. Kami menyebutnya si kembar, meski Si Bonbon adalah blasteran exotic short hair, sementara Chewy adalah kucing persia. Lalu, sama pula dengan Bonbon, Chewy juga pernah mengalami keguguran. Itu sebabnya, ketika akhirnya dia sukses melahirkan, ada rasa lega dan bahagia juga–meski banyak juga pusingnya membayangkan mengurus keempat anaknya.
Anak pertama Chewy lahir sekitar jam 12 malam. Hari itu dia gelisah sekali, dan sedikit agresif. Dia mondar-mandir naik-turun lantai, sembunyi di bawah tangga, di celah tempat penyimpanan tabung gas di dapur. Mungkin lagi mencari tempat ideal buat melahirkan. Mulanya kami tak menduga dia bakal melahirkan, namun setelah dipikir-pikir, jelas juga tanda-tandanya.
Sekitar jam 10 malam kami sudah mengangkutnya ke atas, ke workshop rumah. Dia langsung bersembunyi di bawah meja TV, panting dan gundah. Seperti saat Si Bonbon mau melahirkan, kami langsung menyiapkan under pad, kardus, air minum dan kain bersih. Selanjutnya, tinggal menunggu tanggal mainnya.
Benar saja, sekitar tengah malam, lahirlah anak pertama. Warnanya hitam legam. Tubuhnya kecil, mukanya tak kelihatan saking sarunya. Mirip banget sama Si Chewy! Lega rasanya melihat Chewy terlihat baik-baik saja. Tapi drama baru terjadi sesaat kemudian.
Anak kedua lahir. Nyangkut. Jadi, seluruh tubuhnya sudah keluar, namun kepalanya tertinggal di dalam. Di sisi lain, Chewy mulai tak bisa diam, bergerak-gerak terus mencari posisi. Saya takut sekali. Takut dia asal duduk dan … pletak!
Kami bergerak cepat. Istri saya mengambil tisu, sementara saya membenahi posisi berbaring Chewy agar menyamping. Saya angkat kakinya, lalu mengusap-usap perutnya agar dia lebih semangat ngeden. Di sisi lain, istri saya memberi sedikit tarikan agar bayi lebih mudah keluar. Chewy kelihatan tak nyaman dan kesakitan. Kakinya mulai mencakar-cakar sedikit, namun ini sudah setengah jalan. Jadi, kami gas terus.
Anak kedua akhir lahir dengan selamat. Kami mengecek semuanya. Tangan aman. Kaki aman. Muka … lucu! Warnanya ash grey, persis seperti asbak yang sudah lama tak dicuci.
Chewy membersihkan anak-anaknya, memandikannya, selagi kami memandikan dia. Berhubung dia gondrong, agak repot juga kami jadinya. Beberapa saat kemudian, mereka semua berangsur tenang. Kami pun menutup sesi persalinan dan pindah ke kamar. Lelah. Happy. Khawatir.
Siapa sangka drama ini belum berakhir.
Sekitar pukul 2, saya mendengar anak Chewy mengeong-ngeong. Saya yang belum tertidur berinisiatif mengecek. Takutnya, ia tertindih.
Saya kembali ke workshop dan seketika mengucap istighfar.
Ada satu lagi!
Warnanya oranye seperti senja di Canggu.
Kecil.
Lucu.
Stress!
Tak cuma itu, saya melihat ada satu lagi yang sedang dalam proses mbrojol.
Dengan kesigapan dokter UGD saya turun ke kamar, membangunkan istri dengan setengah berbisik, “anak ketiganya udah lahir. Dan sekarang, lagi proses anak keempat.”
Istri saya membelalak, lalu menghela napas panjang, sepanjang jalan hidup ke depan yang rasanya bakal berliku-liku.
Kami kembali ke atas dan melihat anak keempat Chewy sudah lahir. Warnanya juga hitam, cuma yang ini lebih glossy dan tubuhnya lebih mungil.
Di workshop itu kami terduduk, terdiam. Jam sudah menunjukkan angka setengah 3 pagi. Tubuh sudah lelah, mata kelewat berat dan kami benar-benar butuh tidur. Untungnya, kali ini tampaknya Chewy juga sepakat. Dia benar-benar sudah tuntas. Empat anak cukup, mungkin begitu pikirnya.
Di kamar, mata saya menerawang ke langit-langit ruangan. Mau diapakan anak-anak baru ini? Pelihara? Tapi kucing kami total ada 9, dong, jadinya. Mau dikasihkan ke orang lain? Tapi siapa? Dan kasihan juga, kan? Mau dititip ke shelter? Duh, tak tega juga.
Pikiran-pikiran saya terus berkelana sampai akhirnya saya jatuh tertidur. Di antara sadar dan tidak, saya ingat sebuah pikiran melintas di kepala saya: Kalau dilihat-lihat, color palette Chewy dan anak-anaknya bagus juga, ya?

Welcome to the family, kiddos!
Leave a Reply