Bayu Maitra's official blog

Welcome to my space. Here's where I think out loud.

[Blog] Tentang Piala Dunia 2026

Biasanya, empat tahun sekali saya akan menjadi gila bola. Hal itu lantaran adanya Piala Dunia. Ini ajang yang, sesibuk apa pun jadwal saya, biasanya tak pernah saya lewatkan. Akan tetapi tidak demikian dengan edisi tahun ini. Piala Dunia 2026, bagi saya, terasa hambar sejak awal. Persis seperti nasi goreng kurang garam.

Ada beberapa hal yang bikin saya agak kurang antusias menonton Piala Dunia 2026 ini. Pertama, dan ini sudah menjadi penyakit lama, adalah Brazil.

Brazil adalah tim yang membuat saya jatuh cinta pada sepak bola ketika SMP dulu. Ketika mayoritas tim terlihat serupa di lapangan (kecuali seragam dan tampang pemainnya), Brazil terlihat berbeda. Terlihat mencolok. Mereka main bukan sekadar main. Ada passion di sana, ada seninya, ada hiburannya. Melihat Brazil era lama itu seperti menonton sekumpulan penyihir main bola. Kita dijamin jatuh hati oleh kemampuan olah bola mereka, serta bagaimana mereka menyikapi sepak bola bukan hanya sebagai sebuah olah raga, melainkan olah raga permainan.

Playfulness itu yang hilang dari tim Brazil saat ini. Sejujurnya, sudah memudar sejak beberapa edisi Piala Dunia belakangan, sih. Hanya saja, ketika itu Brazil masih punya Neymar dan Marcello. Bagi saya, dua orang itu adalah dua penyihir terakhir Brazil di pentas Piala Dunia. Sejak mereka menua, sihir itu pun sirna. Jadilah Brazil saat ini tampak serupa dengan tim-tim lainnya. Tak ada tarian Samba saat menggocek pemain lawan. Tak ada trik dan intrik yang memukau lagi. Menonton Brazil sama saja dengan menonton tim Eropa lainnya. Boring dan monoton.

Hal kedua yang membuat saya kian tak bersemangat adalah Jerman, tim favorit kedua saya. Jerman yang dijuluki Tim Panser juga kini tampak generik, seperti tim Eropa lainnya. Pemainnya, kecuali Musiala, tak ada yang cukup kreatif untuk membuat saya betah menonton mereka.

Saya jadi berpikir, mungkin ini dia pengaruh budaya–dan juga geopolitik–terhadap sepak bola. Sebuah titik kulminasi dari pergeseran, benturan, dan asimilasi budaya yang panjang, yang didorong pula oleh semangat globalisasi, yang pada akhirnya membuat segala hal tampak serupa, tampak menuju ke arah yang sama, dan dengan cara yang sama pula. Tak terkecuali dalam hal sepak bola.

Entahlah.

Tapi di luar semua itu, ada lagi hal yang membuat saya malas dengan edisi Piala Dunia kali ini, yaitu Amerika Serikat dan FIFA.

Untuk Amerika Serikat, alasannya cukup sederhana. Saya tak senang dengan perilakunya terhadap Iran, serta arogansinya terhadap dunia. Buat saya, Piala Dunia, sebuah ajang yang menjunjung tinggi fair play, tidak semestinya diselenggarakan di negara yang tidak fair seperti Amerika Serikat. Berhenti menyelenggarakan ajang seperti ini di negara yang suka memulai perang!

Kedua adalah karena FIFA. Bagi saya, FIFA ini adalah salah satu organisasi paling absurd di dunia olah raga, bahkan di dunia pada umumnya. Ketika Rusia menyerang Ukraina beberapa tahun lalu, organisasi ini dengan cepat angkat bicara dan lantas mencekal tim Rusia untuk berpartisipasi dalam pertandingan resmi FIFA. Tapi kini ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan hal yang sama, FIFA malah diam kayak ayam sakit dan malah bikin gelaran Piala Dunia di sana. Bagian mana yang tidak absurd? Bagian mana yang tidak korup?

Beragam alasan tadi benar-benar mengikis semangat nonton bola saya. Sejauh ini, belum ada satu pun partai yang benar-benar saya tonton penuh secara live. Saya hanya mengandalkan cuplikan pertandingan dari Youtube TVRI yang, secara mengejutkan, ternyata dikemas dengan sangat baik (ini bahasan unik yang lain lagi).

Ke depannya, saya masih berharap semangat nonton bola ini kembali membara. Saya harap Brazil kembali ke akar mereka sebagai tim yang menyuguhkan hiburan ketimbang asal bermain atau asal menang. Saya berharap Jerman kembali menjadi tim spesialis turnamen yang konsisten dan menyenangkan untuk ditonton. Terakhir, tentu saja saya berharap agar FIFA ke depannya tak lagi buta, tak lagi korup. Dan Amerika Serikat? Saya cuma bisa berdoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *