Bayu Maitra's official blog

Welcome to my space. Here's where I think out loud.

[Blog] Hujan dan Martabak Asin

Sudah bulan November dan Jakarta mulai hujan berkala. Saya penyuka hujan, jadi selalu senang kalau musim hujan datang. Hal yang agak mengkhawatirkan cuma dua: kemacetan yang berlipat ganda dan potensi banjir. Di luar itu, all is good. Hujan membawa berkah, konon katanya.

Di musim hujan ini pula beberapa makanan meningkat popularitasnya (setidaknya di meja makan saya), seperti mie rebus, bakso, dan tentu saja … martabak!

Di bawah ini adalah foto pedagang martabak langganan saya. Gerainya sederhana, cuma pakai gerobak kayu biasa. Menunya pun tak banyak–hanya martabak asin dan manis standar. Akan tetapi, entah mengapa saya selalu kembali ke mas-mas yang satu ini. Buat saya, rasa martabaknya benar-benar pas di lidah. Gurih, garing, dan tetap sederhana. Dia jualan dari petang hingga malam. Biasanya, di sela-sela orderan, kami kerap berbincang-bincang kecil, seperti mengobrol soal kemacetan, soal politik, dan tentu saja soal hujan.

Anyway, martabak ternyata berasal dari kawasan Timur Tengah dan India. Asal katanya “mutabbaq”, yang artinya “terlipat”. Pada 1930, makanan ini berevolusi menjadi martabak asin seperti yang kita kenal sekarang, berkat pertemanan antara seorang India bernama Abdullah bin Hasan Almalibary dengan pemuda asal Lebaksiu, Tegal, bernama Ahmad bin Kyai Abdul Karim. Abdullah membawa “moortaba” ke Indonesia, Ahmad memodifikasinya menjadi martabak.

Martabak manis lain lagi. Hidangan ini berasal dari Bangka Belitung, diciptakan oleh warga keturunan Tionghoa (Hakka). Nama aslinya Hok Lo Pan yang berarti kue orang Hok Lo. Dulu isinya cuma gula dan wijen sangrai.

Shot with Minolta X-700, 40mm f2.8. Stock film: Cyberpunk 400 (converted to BW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *