Beberapa waktu lalu sahabat saya mengontak. Dia adalah pekerja film untuk departemen wardrobe. Sementara, suaminya seorang asisten sutradara. Dia menelepon untuk bertanya apakah saya sedang sibuk, dan apakah memungkinkan untuk membantu penulisan skenario untuk proyek film pendek mereka. Tentu saja, kalau untuk dia, saya selalu ada waktu.
Kami berbincang sejenak di telepon, tentang konsep dan sedikit soal karakter. Ini akan jadi film pendek dengan satu scene panjang, satu lokasi, satu konflik. Karakternya adalah sepasang suami istri yang berada di penghujung pernikahan mereka. Sahabat saya bilang, belakangan ia merasa banyak pasangan bercerai. Dia ingin mendokumentasikan fenomena itu lewat film.
Seminggu kemudian kami ngopi buat bahas lebih dalam soal backstory, characters want, tema, dan sebagainya. Akan tetapi, pada hari itu yang paling menarik buat saya adalah diskusi tentang atmosfer. Film pendek memiliki durasi yang terbatas. Karenanya, atmosfer harus dibangun dengan kuat sejak detik pertama. Apakah ini drama? Lantas musiknya seperti apa? Pencahayaannya?
Lebih jauh, seberat apa dramanya?
Drama komedi? Drama romantis? Drama …
Drama apa ya?
Kami sempat menelusuri beberapa kemungkinan. Ide ini bisa tak kalah menarik jika dijadikan komedi, atau horor sekalipun. Tapi setelah ngobrol kanan-kiri atas-bawah, kami memutuskan untuk kembali ke cita-cita film ini. Kembali ke drama. Heavy, but supposedly quite witty.
Saya sendiri percaya bahwa sebuah isu yang berat, semisal perceraian, sebaiknya disampaikan dengan ringan. Alasannya sederhana: hidup sudah berat. Jangan menambah beban.
Penyampaian isu sensitif dengan cara yang ringan juga memungkinkan seseorang melihat isu tersebut dari perspektif yang berbeda, atau malah memantik kesadaran bahwa apa yang berat bagi kita belum tentu berat bagi orang lain. Semua itu relatif, tergantung ruang dan waktu di mana kamu berdiri.
Proses penulisan skenario tengah berjalan dan, jika semua lancar, kami akan syuting di bulan Januari. Wait for it.
Leave a Reply