Bayu Maitra's official blog

Welcome to my space. Here's where I think out loud.

[Blog] Paluppa ke Dokter Baru

Sudah tiga mingguan kucing saya, Paluppa, sakit. Kerjanya bersin terus, sama bengek-bengek karena berusaha mengeluarkan dahak. Waktu itu dokter sempat datang dan, katanya, paru-parunya aman. Jadi ini jelas flu kucing.

Paluppa dikasih antibiotik dan obat flu untuk satu minggu. Masalahnya, setelah obat habis, dia masih saja suka tersengal-sengal dan bersin. Saya jadi takut. Jangan-jangan, ada masalah lain. Jangan-jangan, dokter yang datang ke rumah itu kurang OK. Jangan-jangan …

Jadilah pagi tadi saya bawa Paluppa ke dokter berbeda. Namanya drh. Sigit Witjaksono, M.Biomed, kliniknya ada di jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Mulanya saya tidak terlalu yakin dengan pilihan ini karena, dibandingkan dengan klinik-klinik atau dokter hewan lain, gaya praktik dokter satu ini relatif konvensional; tak ada sistem booking, praktiknya juga di rumah. Sederhananya: kurang mentereng.

Ternyata saya keliru.

Jam 10 tepat klinik dokter Sigit buka. Saya dapat antrean nomor dua. Setelah menunggu beberapa saat, tiba giliran saya masuk.

Klinik dokter ini terbilang kecil. Ruang tunggu pasien ada di luar bangunan klinik. Di dalam, hanya ada satu ruang untuk bongkar kandang, kemudian ruang praktik. Cahayanya temaram, seperti klinik lama yang tak tergoda modernitas.

Dokter Sigit sendiri adalah dokter tua yang senang bercanda. Sejak awal dia ramah, ramai dan sangat-ngat-ngat komunikatif. Sebelum memeriksa, dan sambil bercanda dengan saya, dia memerhatikan Paluppa dengan seksama. Apakah kucing lemas? Apakah mata berair? Dan seterusnya. Dia juga menyempatkan diri memberi ‘kuliah dua SKS’ tentang temperatur normal kucing, ragam cacing yang juga berbahaya terhadap manusia, sampai produk obat kucing yang bagus. Tip: waspada saat belanja secara online, karena banyak kasus penjualan obat palsu.

Dokter Sigit punya satu perawat yang tak kalah ramah. Badannya lebih gemuk dari Si Dokter, dan ia piawai dalam menangani Paluppa. Di tangannya, kucing saya tidak meronta dan tetap tenang di atas meja. Matanya juga jeli mengamati kondisi Paluppa. “Hidungnya lecet sebelah,” katanya. “Temperatur 39,7,” lanjutnya.

Paluppa demam.

Sambil ngalor-ngidul, Paluppa pun diobati. Suntik penurun demam, juga pengobatan flu. Sesi kami selesai kurang dari 10 menit, dan saya sangat puas dengan dokter Sigit dan perawatnya. Mereka cekatan dan presisi dalam menangani Paluppa, sehingga Paluppa tidak meronta, mengeong atau menjadi stress. Di titik ini, saya menyadari bahwa di balik kesederhanaan klinik, ada segudang pengalaman di sana.

Jika saya harus memberi rating, maka saya akan kasih 8,5 dari 10. Kenapa cuma segitu? Ya, karena Paluppa belum sembuh. Jika kelak ia akhirnya sembuh, saya akan dengan senang hati memberikan rating 10 dari 10.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *