Bayu Maitra's official blog

Welcome to my space. Here's where I think out loud.

[Writing] Ceritamu Terlalu Formulaik

Banyak orang, terutama yang merasa piawai dalam bertutur, jengah dengan gaya bercerita film Hollywood yang mayoritas menggunakan struktur tiga babak dan delapan sekuens. Tuduhannya, cerita-cerita itu formulaik, jadi kurang kreatif dan karenanya membosankan serta mudah ditebak. Saya pikir orang-orang ini tidak keliru, kecuali dalam satu hal: tak ada yang salah dengan mengikuti formula. Faktanya, segala hal yang eksis di jagad ini memiliki formula yang menyusunnya. Jadi, formula adalah niscaya.

Tak percaya? Begini analoginya.

Bayangkan Koki A dan Koki B berdebat tentang siapa yang bisa membuat nasi goreng terenak. Koki A meramu nasi dengan ragam bumbu dan suwiran daging, sebelum menggorengnya di atas api panas dan disajikan beserta sayuran dan kerupuk demi mempercantik tampilan. Semua orang memuji cita rasa nasi goreng Koki A, dan itu membuat Koki B terpojok.

Tak mau kalah, Koki B pun melakukan inovasi. “Ini bukan nasi goreng biasa,” katanya. “Ini adalah nasi goreng paling inovatif dan avant-garde yang pernah ada,” lanjutnya. Sesaat berselang, ia mulai merebus nasinya, sambil berkata dengan jumawa, “ini bedanya nasi goreng gue. Nasinya direbus.”

Di titik itulah kompetisi antara kedua koki itu berakhir. Mengapa? Karena Koki B bukan memasak nasi goreng, melainkan nasi rebus. Enak atau tidaknya adalah perkara lain. Satu hal yang jelas: itu bukan nasi goreng, karena nasi goreng memiliki formula yang tak bisa diganggu gugat, yaitu nasinya mesti digoreng.

Begitu pula dengan sebuah cerita. Mau tidak mau, suka tidak suka, sebuah cerita selalu jatuh ke dalam sebuah formula, yaitu memiliki awal, tengah dan akhir.

“Tapi ceritaku dimulai dari belakang, kok?”

Ya, itulah awalnya.

“Cerita gue malah berakhir di tengah!”

Ya, itulah akhirnya.

You see? Kapanpun kita bicara tentang cerita, tiga hal itu akan selalu menggawangi. Lantas di mana peran kreativitas pencerita?

Peran pencerita adalah menabur bumbu di antara gawang-gawang itu. Semakin sedap bumbunya, semakin sedap ceritanya. Semakin kaya isiannya, semakin kaya kisahnya. Bahkan, kamu bisa juga menggunakan gaya memasak yang aneh-aneh. Menggoreng dengan arang, misalnya. Atau apapun itu. Dan jangan salah, tak ada urutan pasti dalam kegiatan memasak cerita. Kamu boleh memasukkan nasi duluan, telur duluan, atau malah daging duluan. Bebas saja, karena, toh, kamu yang akan mempertanggungjawabkan ramuanmu.

Di titik ini, hasil lah yang akan bicara. Apakah konsumen suka dengan nasi gorengmu? Kalau enak, tentu takkan ada yang protes dengan caramu memasak. Mereka bahkan akan memuji kreativitasmu. Kalau ternyata tidak disukai, ya, berarti ramuanmu (bukan formulanya!) kurang maksimal. Cek kembali formula sebuah cerita, amati apa saja yang ada di tiap segmennya. Mungkin, kamu bisa terinspirasi dari sana.

Tip: hargai penonton/pembaca/pendengar. Mereka membayar untuk mendapatkan sesuatu yang enak dikonsumsi. Bayangkan betapa dongkol rasanya ketika kamu membayar untuk sepiring nasi goreng, tapi yang datang cap cay.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *