Saya punya motor yang sudah bertahun-tahun terbengkalai: Honda Scoopy rilisan 2013. Dulu, motor ini saya beli dari bos adik saya, orang Prancis yang masa kerjanya di Indonesia sudah berakhir. Motor saya beli cukup murah, di bawah sepuluh juta kalau tak salah. Ini motor kedua yang pernah saya beli, dan motor pertama yang saya beli dengan seluruhnya menggunakan uang sendiri.
Scoopy menemani saya selama masa-masa bekerja sebagai wartawan. Selain menjadi alat transportasi dari dan ke kantor, ia juga kerap saya pakai liputan, liburan, dan tentu saja, kencan. Jika dipikir-pikir, lumayan setia juga dia menemani saya. Akan tetapi, dulu saya tak pernah berpikir demikian. Saya bukan anak otomotif, apalagi “anak motor”, dan karenanya, bagi saya kendaraan hanyalah kendaraan. Scoopy hanyalah alat utilitas. Dipakai sebutuhnya. Dirawat seperlunya. Tak kurang dan tak lebih. Itu sebabnya, agak heran juga rasanya ketika pandangan ini bergeser di 2026.
Pada dasarnya saya senang bertualang. Hanya saja, jenis aktivitasnya saja yang berbeda-beda seiring. Kalau dulu naik gunung dan panjat tebing, belakangan saya senang naik sepeda. Jadilah sepanjang masa pandemi covid saya membangun sepeda yang pas buat bertualang. Niatnya, ketika masa itu berlalu, saya bisa pergi ke tempat-tempat seru naik sepeda. Akan tetapi, ada satu kendala: istri saya tidak ikut keracunan sepeda. Sialan.
Saya selalu ingin istri saya ikut mencoba petualangan-petualangan yang saya jalani. Dan biasanya, dia cukup antusias. Dulu dia bukan anak petualang. Dia anak kota dengan tubuh kurus dan tidak atletis. Dia juga punya asma. Akan tetapi, gara-gara saya racuni secara konsisten, dia mulai bisa melihat indahnya petualangan. Dia mulai ikut naik gunung, manjat tebing, arung jeram, dan seterusnya. Dia juga mulai bisa merasa nyaman bepergian ke tempat-tempat yang random lalu menginap di rumah penduduk. Itu sebabnya, saya punya harapan dia juga bakal senang bersepeda, dan kami bisa gowes ke tempat-tempat yang jauh di pelosok. Kemping. Masak-memasak. Gowes lagi.
Saya keliru.
Waktu itu saya jadi lumayan bingung. Sepeda sudah jadi, tapi kalau mesti jalan tanpa istri terus, rasanya kaya ada yang kurang. Di titik inilah saya berpikir keras mencari kegiatan alternatif. Entah kenapa, rekomendasi video di Youtube kala itu menyajikan sebuah kegiatan yang baru kali itu terasa menarik bagi saya: touring motor.
Dari satu video, saya lantas bergerak ke video lain. Perlahan tapi pasti, saya jadi makin kesengsem dan tertarik buat mencoba. Saya jadi punya beberapa opsi motor yang menarik untuk dibeli, seperti Kawasaki Versys, Yamaha Xmax, Sym Maxsym 400i, dan seterusnya. Saya jadi cari helm, cari rak motor, bahkan jadi tahu apa bedanya bore up dan stroke up mesin motor. Asu!
Di tengah keasyikan mengulik motor impian buat bertualang, saya lantas teringat Scoopy, motor yang telah menemani saya selama 13 tahun dan belakangan sudah mau dijual karena tampilannya sudah buluk dan saya malas memperbaiki. Akan tetapi, kini ada rasa yang beda ketika saya memandang Si Scoopy. Somehow, saya tak lagi memandangnya sebagai alat transportasi semata. Ada percikan nostalgia di sana. Ada kesan dekat, dan rasa sayang. Biar bagaimana pun, dia telah setia menemani saya selama ini. Mungkin, setelah 13 tahun menelantarkan, ini waktunya saya memperhatikan dia.
Hati pun mendadak bulat.
Scoopy tak jadi dijual dan saya akan meremajakannya.
Begitulah proyek peremajaan motor saya bermula. Saya mulai mencari bengkel untuk tanya-tanya. Rupanya, meski tampilannya buluk, Si Scoopy masih terbilang sehat. Mesinnya kering, CVT aman, kaki-kaki juga masih kuat. Kurangnya memang cuma di bagian luar. Dia memang banyak baret dan karat.
“Mungkin sekitar 2,5 juta, Mas,” tutur Mas Yoyok, mekanik bengkel itu ketika ditanya soal total biaya peremajaan. “Itu sudah termasuk bongkar mesin, cat dan penggantian lainnya.”
Deal. Saya menyanggupi. Buat saya, biaya itu masih terjangkau jika melihat betapa banyaknya PR yang harus dikerjakan Mas Yoyok.
Sudah seminggu ini saya selalu kedatangan kiriman. Satu per satu, onderdil Scoopy datang ke rumah, mulai dari hand grip, bodi kasar, spion, dan seterusnya. Niatnya, setelah terkumpul semua, saya baru akan kembali ke bengkel dan membiarkan Mas Yoyok fokus bekerja. Semoga, hasilnya memuaskan dan Si Scoopy bisa cantik kembali.
Terlepas dari itu, saya masih merasa terheran-heran dengan perubahan cara pandang yang saya alami di 2026 ini. Awalnya saya menduga ini karena adanya dorongan ingin bertualang. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, rasanya bukan. Tidak mungkin juga saya mengajak Si Scoopy blusukan, kan?
Entahlah.
Mungkin saja ini hanya karena usia. Orang bilang, semakin tua seseorang, maka semakin sentimental juga perasaannya. Sialan.
Yang jelas, saya merasa sangat antusias dalam menjalani proyek peremajaan ini. Di kepala saya sudah terbayang Si Scoopy yang kembali bugar dan siap diajak jalan-jalan lagi. Ke pasar beli sayur, atau sekadar muter-muter di kawasan Benhil, Blok M dan Senayan.
Leave a Reply