Saya sedang menggarap skenario film. Genrenya horor, formatnya adalah feature film untuk bioskop. Sudah lama saya tidak menulis cerita panjang, terutama sejak kerja di bidang data. Alhasil, otot-otot jemari sedikit kaku.
Akan tetapi, seiring ketikan keyboard, saya merasakan otot-otot itu kembali melentur, kembali lincah, kembali liar. Pergerakan itu lantas menyeret keluar ide-ide lama saya terkait penulisan dan dunia penceritaan yang sebelumnya terkubur, untuk kembali ke permukaan. Saya senang, karena rasanya seperti belajar kembali.
Berikut adalah #CatatanAcak soal hal-hal yang muncul di kepala saya saat menulis skenario horor yang judulnya belum bisa saya sebutkan ini. Semoga berguna.
#1 Mulai dari karakter, bukan dari cerita. Banyak orang membangun cerita dengan cara menyusun plot terlebih dahulu, tanpa mengenal karakternya. Hasilnya, plot semenarik apapun menjadi hambar. Kenali karakter kita. Maunya apa? Lukanya di mana? Kalau kita tidak paham hatinya, arah tulisan akan ke mana-mana. Jika kita sudah mengenalnya, plot akan hadir dengan sendirinya.
#2 Adegan bukan pajangan, melainkan hubungan kasualitas. Itu sebabnya, adegan yang bagus selalu jelas penyebabnya, motivasinya, dan akibatnya. Jika sebuah adegan tidak membawa perubahan, maka baiknya dibuang saja.
#3 Babak pertama: janji. Babak kedua: cobaan. Babak ketiga: jawaban dan penyelesaian. Jangan lupa, karena ini adalah kompas menuju pulang.
#4 Dialog bukan ngobrol-ngobrol. Ia adalah senjata yang, kalau tidak diperlukan, takkan dilepaskan. Dialog mesti merepresentasikan dua niat yang saling menggoyang.
#5 Deskripsi jangan miskin, tapi jangan pula berbelit-belit. Terlalu sedikit menyebabkan hilang arah, terlalu banyak menyebabkan cerita kehilangan nuansa.
#6 Tema itu semacam bisikan halus di belakang kuping. Tidak menyalak, tapi selalu menghantui. Jejaknya bisa ditemukan di mana-mana, mulai dari gerak, dialog, sampai di latar pun pakaian karaktermu.
#7 Menulis bukan sekadar mengisi halaman, tapi mengantar perjalanan karakter dari pergi hingga pulang. Mendekatlah, tapi jangan mengintervensi. Biarkan karakter menulis ceritanya sendiri.
Jakarta, 2025.
Leave a Reply