Siapa sangka, di awal 2026, alam kembali menghadiahi saya dengan air melimpah. Hujan turun dengan deras hampir setiap hari, mencuci langit dan udara dan juga aspal jalanan. Sayangnya, lingkungan rumah saya tidak siap dengan berkah ini. Selokan tak kuasa menampung. Air meluap dan luber ke mana-mana. Ya, bertahun-tahun pasca Ahok menjabat gubernur DKI Jakarta, ini kali pertama rumah saya kembali dilanda banjir.
Seperti yang sudah-sudah, ketika banjir datang, maka tiba waktunya untuk lebih banyak merenung. Berikut adalah hasil renungan akibat banjir versi 2026:
- Buang sampah pada tempatnya.
- Bersihkan selokan secara berkala.
- Jika melihat bocah buang sampah sembarangan, tegur!
- Tak usah keluar rumah jika tak perlu.
- Sampaikan keluhan, kritik atau saran perbaikan lingkungan secepat mungkin kepada pemerintah setempat. Kita bayar pajak, jadi kita berhak.
- Hujan adalah berkah, bagi yang siap menerimanya.
- Tata kota Jakarta memang semrawut dan cenderung busuk.
- Inovasi Jakarta terkait lingkungan hidup mandek, atau malah tidak ada.
- Mungkin perlu mendesain rumah dengan dasar yang tinggi, untuk antisipasi. Lihat arsitektur rumah panggung di daerah-daerah, atau rumah ala Jepang.
- Hujan mendorong orang untuk lebih banyak membaca.
- Mestinya, lebih banyak karya seni anak tentang hujan dan banjir, supaya fenomena ini terpatri dalam setiap warga Jakarta sejak dini. Seperti gempa dan Jepang.
- Banjir tak hanya berdampak buruk bagi manusia, tapi juga kucing jalanan.
- Cek berkala sistem kelistrikan rumah. Kalau sudah konslet, bakal repot semua. Apalagi sampai kebakaran.
Leave a Reply