Belakangan saya menyadari bahwa workflow kerja saya amat bergantung pada Google. Email? Google. Storage? Google. Text editor? Google juga. Dulu saya tidak menyadari ini, dan tidak keberatan karena buat saya ekosistem yang diciptakan mereka lebih inklusif ketimbang Apple yang serba eksklusif (pret!). Hingga detik ini, satu-satunya produk Apple yang saya gunakan hanyalah MacBook karena, to be honest, belum ada laptop yang bisa menyainginya.
Akan tetapi, lama kelamaan saya merasa jengah juga. Karena, selain ketiga produk di atas, masih ada beragam Google lain yang lama-lama mulai berpenetrasi ke dalam hidup saya. Sebut saja, Youtube Premium, Google Nest, Google Photos, Gmaps, dan seterusnya. Ujungnya, saya merasa ini sudah mulai tak sehat. Dan bukan, ini bukan semata-mata soal privasi data, melainkan soal pilihan hidup (ha!).
Saya punya teman yang tampilannya macam papan reklame. Dari atas sampai bawah, aparel yang dikenakan berasal dari merek yang sama. Dia sepertinya tak keberatan dengan itu, bahkan cenderung bangga. Mungkin karena dia adalah fans berat. Tapi mungkin juga karena merek itu sedang hits dan dia punya kebutuhan meningkatkan pamor di mata umat. Entah, lah.
Saya sendiri tidak cocok dengan ide keseragaman semacam itu. Dari kacamata saya, hal itu membuat seseorang tampak seperti iklan berjalan yang, sialnya lagi, tidak dibayar sepeserpun oleh perusahaan yang dibanggakannya itu. Ini jadi lucu buat saya. Alasan lain yang lebih filosofikal adalah: saya tak ingin diatur atau tergantung kepada sebuah tren/merek/perusahaan, apapun itu. Saya ingin tetap independen.
Kesadaran ini membuat saya, sejak beberapa bulan terakhir, secara perlahan mulai melakukan de-Google-lisasi. Dan ternyata ini tidak mudah.
Untuk email dan storage masih gampang. Saya pindah ke ekosistem Proton yang lebih secure, dengan harga langganan yang kurang lebih sama dengan Google. Kendalanya justru di proses pemindahan data itu sendiri. Isi Gdrive saya lumayan banyak, dan karenanya, proses pemindahan tak bisa berjalan cepat.
Untuk browser, saya pindah ke Firefox. Setelah sekian lama tidak mengecek, ternyata tampilan dan fungsi Firefox sudah jauh lebih baik dari yang saya ingat. So far, saya cukup happy.
Yang tersisa–dan belum tergantikan–sampai saat ini adalah Youtube, Google Colab, dan Google Maps. Saya sudah mencoba mencari alternatifnya, tapi menurut saya belum ada yang, secara kualitas fungsi, bisa mendekati produk Google tersebut. Vimeo jelas ditujukan untuk pasar berbeda, dan ragam kontennya pun berbeda. Untuk kerja data science, tadinya saya berpikir untuk menggunakan Data Lab dari Datacamp, tapi ternyata secara fitur belum seoptimal Colab. Dan Google Maps … rasanya belum punya saingan. Saya tak ingin pindah ke Apple maps karena, ya, buat saya, itu sama saja keluar kandang macan masuk kandang singa.
Tapi sejauh ini saya senang dengan perubahan yang sudah saya lakukan. Desentralisasi produk ternyata menyenangkan. Tunggu, ini bukan berarti saya kontra dengan interkonektivitas (internet of things) yang seamless. Saya cuma tidak sreg jika semua itu hanya bisa dicapai dengan syarat kita harus menggunakan produk-produk dari perusahaan yang sama. Ini bertentangan dengan demokratisasi teknologi. The true IoT, menurut saya, adalah kemudahan untuk menghubungkan sesuatu dengan yang lain, tanpa harus berada dalam ekosistem brand yang sama.
Just my two cents.
Leave a Reply