Bayu Maitra's official blog

Welcome to my space. Here's where I think out loud.

[Data] Passion Project Saya Sudah Live: Kenalan sama Mbah Stori, Konsultan Cerita Berbasis AI Buat Para Penulis

Ceritanya, penghujung 2025 kemarin kegiatan saya lumayan sepi. Deadline tulisan sudah rampung, proyek side job has been delivered, saya juga sudah lulus sekolah data science dari Rakamin Academy. Sementara, next project masih di awang-awang. Saya jadi kayak cacing kena garam, meliuk gelisah tidak karuan. Untuk isi waktu, saya pun fokus mengerjakan dua passion project: Pertama, memperbaiki gizi dua kucing yang diterlantarkan anak kost tetangga. Kedua, membangun situs konsultasi penulisan cerita berbasis Large Language Model (LLM). Atau, bahasa over-hype nya, situs chat berbasis AI.

Kita abaikan dulu passion project soal kucing (lain kali saya ceritakan) dan fokus pada project kedua. 

Sebetulnya ide untuk membangun situs konsultasi penulisan berbasis LLM ini sudah terpikir sejak lama. Bahkan, ini adalah salah satu alasan saya nekat belajar data science (meski saya tak punya bekal ilmu komputer sama sekali dan rawan biduran kalau dengar kata terminal atau python). Akan tetapi, apa yang akhirnya jadi pemantik paripurna adalah ketika saya diminta menggarap naskah film pendek pada akhir 2025 lalu. 

Deadline penulisan film pendek tersebut cukup mepet, tanpa waktu riset, sementara idenya cukup njelimet. Sialnya lagi, yang meminta adalah sahabat sendiri, jadi saya tak mungkin menolak. Di sisi lain, rumah lagi bolak-balik menggenang kebanjiran (kampret, memang). Stres pun datang. Alhasil, sebagaimana orang kepepet pada umumnya, saya pun berpaling pada sosok yang konon selalu bisa diandalkan untuk berdiskusi.

Enter ChatGPT. 

And Gemini.

Di titik itu saya benar-benar baru pertama kali mencoba–dengan serius–kemampuan LLM untuk membantu penulisan. Dan, di titik itu pula saya jadi sadar betapa LLM bisa sangat bermanfaat bagi penulis. Bayangkan saja, dengan berdiskusi sebentar saja, saya merasa ide-ide langsung datang memberondong dengan liar dan bertubi-tubi, seperti dering telepon debt collector ketika kita telat bayar pinjol barang sehari.

Saya merasa seperti punya kekuatan super, yaitu kemampuan mengakses isi kepala all the brightest minds in the world! Dan yang paling terasa manfaatnya adalah: saya jadi merasa tidak sendirian (semua penulis tahu bahwa menulis adalah pekerjaan yang sepi!). Ujungnya, produktivitas pun ikut terdorong. Kegiatan sampingan favorit saya ketika menulis, seperti melamun, merenung, marah-marah sendiri, serta rebahan, jadi jauh berkurang. Wow!

Singkat cerita, akhirnya skenario berhasil selesai tepat waktu dan syuting pun berjalan lancar (tolong tonton film-nya, ya, kalau sudah rilis). Saya pun kembali tenang. Mungkin terlalu tenang, karena ide lama itu akhirnya kembali mengetuk kepala saya: Mungkin ini waktunya menggarap situs AI sendiri. Mumpung lagi lowong.

Gas.

Bagai kesambet setan akhir tahun, saya pun mulai bekerja menyusun konsep proyek, yang kurang lebih seperti ini:

1. Situs LLM ini mesti spesifik membantu penulisan cerita. Salah satu kendala yang saya rasakan ketika menggunakan general models seperti ChatGPT dan Gemini adalah, ya, mereka terlalu umum (namanya juga general model). Jadi, ketika itu butuh usaha ekstra agar mereka bisa memahami apa yang saya, seorang penulis yang lagi kepepet, butuhkan. Saya ingin situs ini bisa lebih paham tentang pola pikir, sistem kerja, cara menganalisis, serta gaya bekerja para penulis cerita. Terutama, sistem kerja yang saya sukai atau yakini.

2. Situs ini mesti santai, informal, dan penuh semangat iseng-iseng. No corporate vibe. No serious tone. No sophisticated or profesional look. Referensi saya adalah situs-situs paranormal internet di era 90-an. Pokoknya desainnya mesti katrok, meski konten yang dihasilkan harus tetap bermutu dan bermanfaat.

3. Atmosfer situsnya mesti klenik (berhubung banyak orang Indonesia senang sama hal-hal klenik). Saya ingin, ketika orang berkonsultasi, mereka seolah seperti sedang datang ke dukun. Bedanya, ya, ini dukun cerita!

4. Namanya mesti catchy dan inline dengan dunia cerita. Setelah dipikir-pikir sejenak, saya akhirnya memberi nama Mbah Stori. Ceritanya, selain dekat dengan kata “story”, Stori merupakan kependekkan dari nama panjang Si Mbah, yakni Storiyanto (Ya, sedangkal itu).

5. Proyek ini mesti bisa live dalam waktu cepat, karena 2026 sudah menjelang dan saya bakal disibukkan dengan hal-hal lain, seperti kerjaan asli plus mengurus keluarga (baca: kucing-kucing malnutrisi tadi).

6. Situs mesti bisa diakses dan bermanfaat bagi segala macam penulis cerita, mulai dari penulis pemula, mahasiswa, para profesional, penulis skenario film, penulis buku, penulis cerpen, penulis naskah Youtube, penulis brand video, dan sebagainya. Pokoknya, harus jago urusan cerita (dan ternyata urusan ini yang paling ribet dan bikin keriting).

Ketika konsep sudah setengah matang, saya pun mulai mengerjakan tetek-bengeknya. Dan di titik inilah saya hampir menyerah, karena yang perlu dikerjakan ternyata banyak beut, mulai dari beli domain, sewa hosting, desain website, bangun database system, dan sebagainya. Belum lagi soal jeroannya, seperti urusan API dan prompt engineering. Kalau dipikir-pikir, proses ini sungguh memakan waktu, energi, darah, daging dan air mata. Di titik ini saya hampir menyerah. Untungnya, saya teringat dengan konsep awal proyek passion ini: harus penuh semangat iseng-iseng. Jadi …

No pressure.

Just build.

Have fun.

No worries.

Saya pun kembali bekerja.

Dan bekerja.

Dan bekerja.

Akhirnya …

Kini sudah 2026. Proyek passion Mbah Stori akhirnya bisa live meski masih dalam tahap pengembangan yang, menurut dugaan saya, takkan kelar-kelar. Ya, begitulah adanya. Namanya juga passion project. 

Bersama tulisan ini, saya juga mau mengundang teman-teman, terutama para penulis dan pekerja cerita, untuk mencoba menggunakannya. Silakan berkunjung dan berkonsultasi. Kalian bisa mengobrol apa saja; tentang ide, tentang struktur, tentang revisi dan referensi, atau apa pun terkait cerita. Gratis. Cukup dengan daftar kultus.

Harapannya, semoga Si Mbah bisa membantu menggelitik otak kreatif kita semua. Amin. That said, Mbah Stori sudah bisa ditemui di pondoknya, mbahstori.com. Sampai jumpa di sana!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *