“Lantas bagaimana soal integritas penulis?” Tanya seorang aktor pada saya di sebuah lokasi syuting. Sore itu, di waktu jeda pengambilan gambar, kami duduk di taman sambil mencoba kemampuan Mbah Stori, situs konsultasi penulisan berbasis AI yang saya bangun beberapa bulan belakangan. Setelah beberapa kali mencoba, seperti meminta dibuatkan ide, juga meminta rincian plot untuk serial delapan episode, Budi (sebut saja begitu) tampaknya cukup tersentuh dengan apa yang didapat. “Gila,” katanya. “Gawat,” lanjutnya. Lantas meluncurlah pertanyaan tentang itu: integritas.
Jujur, senang rasanya mendapat reaksi seperti itu. Saya telah membagikan tautan Mbah Stori kepada beberapa teman dekat, baik penulis maupun bukan, untuk mengujinya. Akan tetapi, selama ini mayoritas respons bicara soal tampilan, fungsi, pengalaman dan manfaatnya. Baru kali itu saya menemukan orang yang malah mempertanyakan filosofi atau etikanya. Buat saya, ini pertanyaan yang tiga langkah ke depan, dan penting pula. Saya senang sekali!
Saya menjawab pertanyaan Budi dengan nyaris spontan: tergantung dari niat, penggunaan dan pertanggungjawaban penulisnya. Tidak bisa salah satu, mesti ketiganya.
Berikut adalah beberapa poin obrolan kami di taman itu terkait penggunaan AI di ranah profesi penulisan. Berhubung obrolan kami cukup seru–dan karenanya jadi bolak-balik, harap maklum jika poin-poin ini tidak disajikan secara berurutan, berkesinambungan, atau bahkan malah berulang. Saya harap pola sporadis ini masih bisa bermanfaat:
- Semua dimulai dari niat. Apa niat dari penulis itu ketika menggunakan AI? Berdiskusi ide? Mempertajam premis? Mencari inspirasi plot? Merevisi naskah? Atau, melakukan plagiat karya orang, menipu juri kompetisi/penonton/pembaca? Hal ini penting untuk dipahami dengan baik dulu, sebelum berasumsi atau menghakimi. Jika niatnya buruk, maka kemungkinan besar integritasnya buruk. Tetapi, jika niatnya baik, maka belum tentu integritasnya juga baik. Terlalu sering kita mendapati kasus di mana niat baik berbuntut perilaku buruk. Buat saya, pemahaman atas niat penulis sangat penting, namun baru separuh jalan.
- Jika penulis berniat buruk dan lalu melakukan hal buruk, semisal plagiat atau memalsukan karya, ini jelas bermasalah. Sama hal nya dengan ketika penulis berniat baik, misalnya ia ingin menulis cerpen tentang pengalamannya, namun berujung melanggar hak cipta orang atau sepenuhnya menggunakan AI. Bagi saya, ada unsur penyalahgunaan di sini.
- Mengklaim hasil tulisan AI sebagai karya asli jelas bermasalah. Selain dari niatnya saja sudah kurang OK, ini bisa termasuk ke dalam plagiarisme atau penipuan.
- Ada perbedaan antara memakai AI sebagai alat/teknologi (analoginya sama seperti memakai auto-tune dalam rekaman musik atau Photoshop dalam fotografi), dengan memakai AI sebagai pengganti (copy-paste tulisan AI lalu diakui sebagai karya sendiri). Kalau yang pertama, rasanya masih sah dan etis. Masih penulis. Tapi kalau yang kedua, saya berpandangan bahwa penulis itu lebih serupa editor AI.
- Bagi saya, di luar konteks pembelajaran pribadi (seperti mencari ide, mempertajam karakter, dan sejenisnya), penulis mesti terbuka terkait penggunaan AI dalam karya mereka. Pakai atau tidak? Jika pakai, seberapa banyak dan untuk apa saja? Jangan salah, ini bukan seperti bentuk pengakuan dosa. Ini lebih kepada menjaga transparansi dan menjalin kepercayaan dengan pihak-pihak lain yang terlibat dengan penulis tersebut, seperti penerbit, editor, klien, dan yang terpenting, penonton atau pembaca. Dengan terbuka di awal, maka semua orang bisa menempatkan ekspektasinya dengan benar, dan tidak merasa tertipu belakangan.
- Faktanya, sejauh ini belum ada aturan hukum tentang larangan penggunaan AI di dalam penulisan (dan ranah kesenian lainnya), apalagi terkait penyalahgunaannya. Dunia masih sibuk merancang regulasi. Selama aturan belum ada, maka semua hal, selama tidak melanggar hak orang lain, sebetulnya sah-sah saja. Ujungnya kita mesti bergantung pada selera etika dan rasa pribadi. Setiap penulis mesti kembali ke diri masing-masing dan bertanya: apakah penggunaan AI untuk soal … (isi sendiri titik-titiknya) terasa etis dan pantas atau tidak.
Saya juga tak tahu jawabannya.
Leave a Reply