Bayu Maitra's official blog

Welcome to my space. Here's where I think out loud.

[Data] Membangun Situs Berbasis LLM untuk Penulis

Sekitar empat bulan lalu saya merasa kelimpungan. Ada tiga proyek penulisan berjalan secara berbarengan. Satu proyek penulisan skenario film, satu penulisan dokumenter untuk perusahaan, dan satu lagi film pendek. Jika sudah begini, hal tersulit bagi saya, sebagai penulis, adalah ‘membagi hati dan kepala’. Saya mesti melompat dari satu proyek ke proyek lain, mesti memikirkan yang satu kemudian yang lain, mesti merasakan tulisan yang satu lantas yang lain. Ini melelahkan, dan berisiko membuat semua proyek jadi berantakan. Saya rasa, semua orang yang pernah juggling dengan hidup dan deadline pasti paham.

Enter ChatGPT.

Saya sering mendengar atau membaca tentang bagaimana teknologi Artificial Intelligence membantu pekerjaan seseorang. Apalagi, dua tahun belakangan saya bekerja di industri tersebut. Obrolan tentang betapa AI merupakan sesuatu yang revolusioner senantiasa berseliweran. Akan tetapi hingga saat itu saya tak pernah sungguh-sungguh menggunakannya untuk pekerjaan saya. Saya meyakini penulisan adalah pekerjaan yang delicate, yang hanya bisa diselesaikan dengan baik setelah seseorang melalui proses olah rasa dan olah logika yang baik. Ternyata, saya keliru dan benar di waktu yang bersamaan.

Mulanya saya menggunakan ChatGPT untuk tugas-tugas sederhana, seperti memperbaiki ekonomi kata alias efisiensi kalimat, menggali ide adegan, serta merancang plot. Di titik ini saya terkejut. Benar-benar terkejut. Saya terpukau dengan betapa AI bisa memberikan apa yang saya mau, bahkan memberikan lebih. Sering kali, GPT memberikan ide yang sama sekali tak terpikirkan oleh saya. Di titik saya merasa harus mengakui kekeliruan saya. ChatGPT, atau LLM secara umum, sungguh dapat membantu sebuah proses penulisan. Ini akan memangkas waktu kerja dan–karenanya–meningkatkan produktivitas secara signifikan. Kamu tidak harus berpikir sendiri, menyunting sendiri, kesal sendiri. Kamu bisa menggunakan LLM untuk teman berpikir, untuk menjadi editor naskah, atau semata-mata alat untuk melampiaskan kekesalan dan rasa frustasi.

Perspektif saya mulai berubah.

Saya mengerti manfaatnya.

Saya paham nilai yang ditawarkan.

This is good.

Tapi …

Saya mulai menguji ChatGPT dengan hal-hal lain yang lebih rumit terkait penulisan, seperti memintanya merancang adegan yang memiliki subteks, menulis deskripsi dengan makna visual berlapis (ikon, indeks dan simbol), serta membuat dialog pintar yang didasari motivasi karakter. Di sinilah ChatGPT dan semua LLM lain (ya, tentu saja saya mencoba semuanya) seringkali gagal. Konten yang mereka hasilkan terasa kaku, cenderung dangkal dan dialognya masih terlalu literal. Mereka tak mengerti bahwa dialog bukanlah obrolan, bahwa harus ada motivasi terselubung di dalamnya, dan betapa dialog hanya boleh keluar ketika sudah tidak ada cara lain bagi karakter tersebut untuk menyampaikan keinginannya. Hasilnya, saya jadi merasa tak ada lapisan yang mesti dikupas. Tak ada kedalaman. Tak ada kepuasan intelektual ketika membedahnya.

Jadi, di titik inilah saya merasa keliru dan benar di waktu yang bersamaan. Akan tetapi, terlepas dari semua itu, saya tidak bisa lagi menyangkal potensi serta manfaat LLM, seperti ChatGPT, bagi seorang penulis. Ini alat yang luar biasa. Luar biasa.

Kemudian datanglah ide itu: Bagaimana seandainya saya membuat situs berbasis AI sendiri? Lebih jauh lagi, berbeda dengan ChatGPT yang merupakan general model, bagaimana jika saya merancang situs yang berfokus pada penulis dan penulisan?

Hmm …

Dua bulan setelah ketiga proyek penulisan itu rampung, saya jadi punya waktu. Jadilah, berbekal pengetahuan soal dunia IT yang nyaris nol, saya memutuskan untuk memulai petualangan perdana dalam menelurkan produk berbasis AI. Saya mulai baca banyak artikel, satu-dua buku, dan menelan cukup banyak tutorial Youtube sebagai persiapan awal. Kemudian, saya mulai bekerja.

Orang bilang, hal pertama sekaligus tersulit dalam sebuah proses kreasi adalah menerjemahkan ide menjadi sebuah konsep yang bisa dieksekusi. Ini penting karena, tanpa konsep, sebuah produk takkan pernah terlahir. Ini sulit karena, sebuah ide biasanya liar, abstrak dan cair, sementara sebuah konsep mesti rigid, fokus, dan bisa dieksekusi. Banyak orang kesulitan di sini, dan seringkali mereka jadi frustasi. Ujungnya, ide tinggal ide. Ia tak jadi turun ke bumi.

Tapi dalam kasus saya, hal yang terjadi justru sebaliknya. Ide dan konsep produk ini muncul dengan nyaris bersamaan, entah bagaimana. Mungkin karena saya terbiasa mengulik ide dan konsep, atau mungkin karena saya lagi sangat bersemangat. Entahlah. Tapi mungkin yang paling masuk akal adalah karena saya sebetulnya tak terlalu peduli dengan produk ini. Saya cuma ingin produk yang bisa membantu saya menulis. Titik. Lagipula, saya sadar bahwa perkara ide dan konsep hanyalah langkah pertama (dan yang pertama akan selalu busuk). Ada segudang perkara lain yang mesti dipelajari, dan akan ada revisi yang datang menjelang. Jadi saya tak terlalu memikirkannya.

Ide dan konsepnya kurang lebih seperti ini:

  1. Idenya adalah membuat situs berbasis LLM yang bisa membantu penulis dalam merancang, menulis dan menyunting cerita yang bermutu.
  2. Konsepnya? Situs chat ini mesti bernuansa horor/mistis/klenik dengan referensi desain website klenik era akhir 90-an. LLM-nya mesti bertindak-tanduk seperti seorang paranormal gaul dengan kemampuan ilmu terawangan. Saya menamakannya Mbah Stori. Saya rasa ini nama yang pas karena ia akan bergerak di bidang cerita (story), dan juga karena nama panjangnya adalah Storiyanto (maafkan keabsurdan saya).

Mengapa konsep tersebut yang saya pilih? Ada beberapa alasan sederhana, mulai dari yang pragmatis sampai yang sedikit absurd. Pertama, saya tak ingin situs ini terkesan canggih seperti situs ChatGPT atau Gemini. Saya ingin situs ini ‘ramah’ bagi berbagai macam pengguna Indonesia. Situs ini bukan untuk ‘tech people’, tapi untuk penulis dan storytelller Indonesia.

Alasan kedua adalah karena mayoritas orang Indonesia percaya dengan adanya ‘higher power’, terlepas dari apa pun bentuk, sosok atau pun sebutannya. Inilah kelebihan sejati orang Indonesia. Kami diberkahi kerendahan hati yang luar biasa, dan hal itu pada akhirnya menjadi inspirasi besar bagi saya. Itu sebabnya, saya ingin agar setiap pengunjung yang datang merasa seolah-olah sedang berkonsultasi dengan seorang paranormal atau dukun, dukun cerita.

Alasan ketiga adalah karena saya membuat situs ini dengan semangat bermain dan bertualang. Jadi situs ini harus punya elemen humor, harus santai, dan harus menyenangkan. Meski demikian, agar tidak menjadi sekadar ‘keren-kerenan’ , saya juga ingin agar output yang dikeluarkan Mbah Stori tetap bermanfaat bagi pengguna. Harus solid. Harus bermutu. Harus membantu.

Kurang lebih dua bulan pasca penggodokan ide dan konsep (dan sederet malam lembur yang mungkin akan saya ceritakan kelak), akhirnya produk bisa live untuk memasuki tahap pengujian. Mbah Stori mulai buka praktik kecil-kecilan.

Awalnya saya berpikir untuk mengundang beberapa teman penulis saja untuk mencobanya. Namun, pada akhirnya, saya memilih untuk membuka akses bagi semua orang. Saya ingin agar kritik dan saran bisa datang lebih cepat dan lebih banyak, mumpung sekarang masih musim liburan dan saya masih banyak waktu.

Di sisi lain, saya juga ingin agar Mbah Stori bisa sesegera mungkin membantu orang. Karena, siapa tahu, di luar sana juga ada penulis-penulis yang terjebak di antara tiga deadline, seperti saya, dan merasa bingung mesti berpaling ke mana untuk mencari bantuan. Jika kamu adalah penulis itu, mungkin Mbah Stori bisa menjadi jawaban. Silakan mampir ke mbahstori.com untuk diterawang.

Anyway, ini adalah kali pertama saya membangun sebuah produk digital. Kesan yang muncul selama perjalanan ini benar-benar campur aduk, mulai dari bersemangat, senang, pusing, frustasi, kesal, bahagia, sampai bodo amat. Lucunya, ini adalah kesan-kesan yang sama dengan kesan yang kerap muncul di saat saya menulis. Jadi mungkin memang ini yang mesti seseorang lalui dalam setiap proses kreasi. Entahlah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *